Memahami Masa Remaja Secara Psikologis yang Akan Menjadi Pemuda Penerus Bangsa

Kali ini Cerdaskan.ID akan memuat artikel mengenai masa remaja dan karakteristiknya secara psikologis supaya lebih memahami generasi penerus bangsa.

Bagi kamu yang masih remaja bisa baca artikel ini supaya bisa mengenal diri sendiri, dan bagi yang ingin mengenal remaja bisa dilanjut lagi bacanya ke bawah.

Pendahuluan

Remaja punya kekuatan mengubah dunia

Mengupas masalah remaja memang suatu hal yang tidak akan pernah habis untuk dibahas. Banyak alasan yang mendasarinya, seperti keunikan peralihan dari anak-anak, perkembangan emosi, harapan budaya dsb. Bahkan Presiden Republik Indonesia Pertama yaitu Ir. Soekarno pernah mengatakan “Beri aku sepulah pemuda maka akan aku guncangkan dunia”. Melihat itu pemuda memiliki kemampuan yang dahsyat jika dilatih menurutnya.

Lebih dekat dengan remaja

Remaja atau pemuda yang disebut sebagai sebuah fase dalam kehidupan seseorang dengan masa paling kritis selama hidup. Mungkin ini dilatarbelakangi oleh budaya yang menganggap masa dewasa merupakan masa yang taraf hidupnya berat dan serba mandiri. Karenanya, masa remaja menjadi dasar bagi seseorang untuk mendalami diri dan melepaskan diri dari genggaman orang lain untuk dewasa nanti. Meski dikata bukan juga tidak butuh orang lain, sederhananya bisa mengurus diri.

Remaja harus memiliki visi

Perilaku dan sikap demikian memang sepertinya terasa sulit bagi remaja. Memang remaja diidentikan dengan masih senang dengan bermain dengan teman sebayanya. Namun pastinya tidak semua orang begitu. Tapi yang ingin saya sampaikan yaitu kuatnya pengaruh teman sebaya ketika remaja bisa mengalahkan pengaruh orang tua. Jika terjadi demikian, biasanya, remaja akan turut berperilaku cenderung mengikuti kelompoknya. Contoh perilakunya jika dibiarkan bergaul bebas yaitu perilaku menyimpang.

Dalam hal ini, peranan orang tua dalam mengedukasi remaja harus bisa menyesuaikan cara komunikasinya dengan gaya remaja. Salah satu jalan supaya komunikasi berjalan seperti yang diharapkan adalah dengan memahami karakteristik dan tugas masa remaja. Seyogyanya mereka, para remaja, merupakan masa yang sedang mencari identitas diri. Karenanya warna identitas remaja akan menggambarkan masa dewasanya.

Baca : Beberapa alasan pentingnya kamu mengapa harus mengenali identitas diri sebelum lulus SMA.

Masa Remaja

Makna Remaja

Remaja memiliki sebutan dalam bahasa inggris yaitu adolescence yang berarti to grow maturity. Ini berarti remaja merupakan jalan bagi orang dalam menuju kedewasaan. Itu juga bisa berarti remaja merupakan ajang pelatihan menuju manusia dewasa yang matang baik dari segi kognitif, emosi dan sebagainya. Kematangan yang dimaksud bisa berbentuk kestabilan. Karena karakteristik remaja masih memiliki pikiran yang dikuasai oleh emosi (Yudrik Jahja, 2011).

Jika kita lihat arti remaja secara definitif menurut ahli yaitu:

Masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.

(Papalia & Olds, 2001 dalam Yudrik Jahja, 2011)

Baca : Mengenal Karakteristik Masa Anak-anak awal untuk mengembangkan pola perlakuan yang tepat.

Karakteristik Remaja

Remaja dalam usia psikologis dibagi ke dalam dua periode menurut beberapa ahli. Masa pertama yaitu pubertas atau remaja awal yang memiliki rentang usia dari 12-17 tahun. Sementara masa kedua yaitu masa remaja akhir, usianya yaitu dari mulai 17-19 tahun. Sebenarnya keduanya tidak terlalu memiliki perbedaan yang cukup signifikan, hanya saja remaja awal merupakan perubahan secara menyeluruh. Perubahannya sangat kentara karena perbedaan masa anak dan masa pubertas, terutama dalam segi fisik.

Dalam perspektif agama Islam, remaja atau pubertas merupakan masa awal dari seseorang memiliki catatan amal sendiri. Artinya yaitu ketika sudah masuk masa pubertas, remaja sudah taklif atau ditanggungkan beban tanggung jawab hidup sebagai abid dan khalifah. Jadi, arahan dan bimbingan lingkungan serta orang tua perlu lebih diperkuat lagi.

Domain Fisik

Perubahan pada aspek fisik merupakan perubahan yang paling kentara dan terlihat mata. Perubahan fisik tersebut di antaranya yaitu otak, keterampilan motorik, otot, dsb. Perubahan otak ini supaya sejalan dengan cara berpikir (kognitif) nya yang mulai abstrak.

Dengan begitu, fisik remaja akan lebih terlihat kapasitasnya seperti orang dewasa. Namun karena beberapa hal yang mempengaruhinya, mereka juga kadang terlihat perilakunya sepert anak. Ini wajar saja karena masih dalam masa peralihan sehingga perlu pelatihan.

Domain Kognitif

Perkembangan kognisi remaja

Kognitif masa remaja sudah hampir menyerupai orang dewasa. Remaja telah mampu berpikir secara rasional dan abstrak, dimana mereka dapat mengakses informasi ataupun ide secara sadar dan mampu mengolahnya. Ini bisa disebut menurut Piaget sebagai tahap formal operasional (Patricia H. Miller, 2015).

Kamu bisa membayangkan formal opersional sebagai bagaimana remaja telah mampu mengetahui konsekuensi perilakunya, mampu memikirkan ke depan jauh atau bukan hanya aktual dan lebih logis. Remaja juga dengan ini telah mampu melihat sesuatu hal dari sudut pandang orang lain. Sehingga berimplikasi pada moral yang akan mampu menghargai orang lain. Namun remaja juga berpikiran dengan kepercayaan bahwa orang lain sama terlibatnya dengan dirinya, bahwa dirinya unik, dan bahwa ia kebal. Sederhananya yaitu remaja merasa bahwa orang lain menyadari dan memperhatikan mereka daripada realitanya (Elkind, 1978, dalam Laura A. King, 2017).

Domain Sosial

Mencari identitas meski itu unik

Perkembangan remaja secara sosial digambarkan dengan perubahan bagaimana ia berhubungan dengan orang lain. Di samping itu, domain sosial seperti yang dikemukakan oleh Erikson bahwa remaja merupakan tahap Identity Vs Identity confusion. Menurutnya perkembangan masa remaja memiliki sumbangan penting bagi pencarian identitas.

Identitas

Dalam pencarian identitasnya, masa remaja harus menghabiskan waktunya untuk menggapai alternatif dalam memecahkan krisis diri. Krisis tersebut biasanya ada dalam pikiran remaja. Statusnya yang masih remaja membuatnya gamang, karena dia akan dilibatkan dengan fokus pada peran barunya. Peran barunya tersebut harus bisa berhubungan dengan orang lain supaya identitas dirinya terbentuk. Dan juga bagi remaja yang menarik diri cenderung akan sendirian ketika masa dewasanya.

Baca :

Peran anak muda sebagai entitas pembangunan wacana publik.

Pemuda di Era Disrupsi

Pengaruh orang tua dan teman sebaya

Perubahan sosial juga terlihat dalam hubungannya dengan orang tua dan teman sebaya. Pengaruh orang tua pada remaja tidak lagi seperti anak-anak yang lebih authoritatif atau otoriter, tapi lebih diberi kebebasan dengan beberapa pengawasan orang tua. Orang tua berperan sebagai pengarah, dan membantu ketika menghadapi masalah di luar kendalinya. Ini berarti bahwa orang tua perlu memberikan sedikit kebebasan untuk pencarian identitas, namun dalam makna yang positif, dan juga melibatkan pengawasan orang tua.

Remaja punya link yang luas loh dengan temannya

Sementara hubungan dengan teman sebaya atau kelompok, remaja akan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan mereka. Mungkin untuk contoh di Indonesia yaitu remaja akan lebih menghabiskan waktunya di sekolah ketimbang di rumah. Melihat hal demikian, pengaruh teman atau kelompok bisa sangat signifikan pada proses pencarian identitas remaja tersebut. Bahkan dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa teman atau kelompok yang cenderung kriminal menjadi prediktor pada perilaku remaja yang menyalahgunakan narkoba, perilaku menyimpang, dan depresi (Laursen & Others, 2012).

Domain Emosi

Perubahan emosi pada remaja sangatlah cepat dan dikenal dengan masa storm dan  stress. Kestabilan emosi sangat diharapkan pada remaja. Dengan memiliki emosi yang stabil, remaja akan mampu mengkonstruk diri secara kreatif. Di samping itu, stabilitas emosi penting untuk berinteraksi dengan orang lain. Misalkan remaja akan mampu menerima perasaan diri dan orang lain serta toleran, luwes dalam bergaul.

Sering kali emosi remaja yang cepat berubah akan mengganggu cara berpikirnya. Karena itu bimbingan orang tua dalam mengendalikan emosi remaja harus diarahkan pada sesuatu yang konstruktif dan kreatif. Selain itu, dengan emosi remaja bisa menggunakannya sebagai alat pemacu atau motivator dalam mengerjakan sesuatu. Alhasil akan menjauhkan remaja pada perilaku menyimpang dan perasaan stres atau depresi.

Tugas Perkembangan Pada Masa Remaja

Dalam perjalan hidupnya remaja memiliki tugas yang diemban. Tugas tersebut di antaranya adalah :

Seseorang pasti memiliki tanggung jawab
  1. Menerima keadaan diri dan penampilan diri yang berubah atau berbeda ketika pada waktu kecil.
  2. Bisa berperan sesuai jenis kelaminnya.
  3. Membentuk hubungan dewasa dengan teman sebaya.
  4. Mengembangkan tanggung jawab secara sosial dan moral.
  5. Memiliki kemampuan intelektual untuk bekerja dan dalam pendidikan.
  6. Menemukan identitas diri guna menyongsong masa dewasa.
  7. Mampu bertahan dalam konflik diri dan menyelesaikannya dengan cara kreatif.

Faktor Penyimpangan Remaja

Perilaku menyimpang pasti ada sebabnya

Dalam perilakunya yang menyimpang, di samping pengaruh internal, pengaruh eksternal juga memiliki sumbangan dalam membuat remaja menjadi menyimpang. Faktor tersebut di antaranya yaitu;

  1. Kehidupan ekonomi yang morat-marit.
  2. Broken home
  3. Moralitas dan norma masyarakat yang buruk.
  4. Pengangguran.
  5. Pergaulan negatif dengan teman sebaya.
  6. Kelalaian orang tua menanamkan nilai agama, norma ketika usia anak.

Penutup

Well, hanya itu yang bisa diberikan sekarang mungkin di lain waktu akan saya jelaskan mengenai salah satu perilaku menyimpang ketika remaja yaitu tawuran. Tapi kamu sebenarnya bisa menyimpulkan dari sini mengapa remaja terjadi tawuran antar kelompok jarang secara individu.

Semoga kamu bisa lebih memahami tentang diri sendiri. Karena pemahaman terhadap diri akan mampu menghantarkan kamu menuju masa dewasa yang lebih bermakna. Sebisa mungkin hindari pergaulan dengan orang yang dianggap oleh baik diri kamu atau masyarakat adalah orang bobrok. So, ingatlah kita adalah pemuda harapan bangsa. Dipundak kita bukan lah beban tapi harapan mulia untuk membangun bangsa yang beradab dan maju.

Daftar Pustaka

Jahja, Y. Psikologi Perkembangan, Jakarta: Kencana, 2011

King Laura A., The Science of psychology An appreciative view, New York; McGraw-Hill Education, 2017.

Miller P. H., Theories of Developmental Psychology, New York; Worth Publisher, 2011

Redaksi - Arif Budiman

Penyuka langit biru di antara pepohonan yang hijau

Punya Pertanyaan atau Komentar untuk Kontributor?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Menu