Memahami Masa Anak – Anak Awal Lewat Karakteristik Psikologi

Kali ini Cerdaskan.ID akan memuat artikel tentang karakteristik anak – anak awal berdasarkan usia perkembangan psikologi.

Bagi kamu yang tertarik dengan anak – anak atau yang sudah menikah bisa masuk dan mengeanali karakteristik masa anak – anak awal ini. Yuk disimak.

Pendahuluan

Anak-anak merupakan aset masa depan bangsa. Dipundak mereka lah bangsa ini dipertaruhkan dan diwarsikan. Melihat hal itu, anak-anak perlu diberikan pendidikan dan pengajaran agar sesuai yang diharapkan. Namun tahu tidak siapa itu anak-anak ?. apa anak usia 20 atau anak umur 1 tahun atau siapa ?. 

Bagi kamu yang remaja mah masuk ke sini aja [Pentingnya Mengenali dan Memahami Diri Sebelum Lulus SMA].

Anak-anak. Source: http://anohana.wikia.com/wiki/File:Anohana-Live-Action-01.jpg

Secara psikologi, periode anak terbagi menjadi dua masa. Masa yang pertama yaitu anak awal dengan rentang usia dari 2 sampai 6 tahun. Sementara periode selanjutnya yaitu masa anak akhir dengan rentang usia 6 – 12 tahun. Jadi jangan salah lagi ya teman-teman rentang usia anak itu seperti di atas. Penting diketahui juga, meski sama-sama anak, dua periode di atas memiliki banyak perbedaan loh baik dari fisik, cara berpikir, emosi dsb.

Jadi, bagi kamu yang berminat mengetahui lebih dalam seputar anak-anak bisa dilanjutkan bacanya. Atau bagi kamu juga yang sudah punya rencana matang untuk segera memiliki anak bisa juga masuk mengenal lebih dulu, bagi jomblo juga boleh kok terbuka wkwk.

Prinsipnya Bagi Kamu

Ketika kamu ingin mengenali anak, maka kamu harus juga manut pada pepatah “Tak kenal maka tak sayang”. Sayang disini bukan berarti tidak sayang secara emosional, namun pada perlakuan pada anak sesuai usianya. Ini penting karena perlakuan yang sesuai atau istilah sekarang parenting akan mempengaruhi kehidupan anak di masa mendatang. Karena sesuai dengan pernyataan Gaarder dalam Novelnya bahwa

Anak merupakan seorang filsuf, dia meragukan segala hal dengan menanyakannya. Mereka takjub dengan rahasia-rahasia semesta, daripada orang dewasa yang buta karena biasa.

Jostein Gaarder, Misteri soliter

Well, untuk memenuhi hajat keingintahuan anak-anak, anak dewasa harus mengisinya dengan sesuatu yang sebagai mana mestinya diberikan serta cara penyampaiannya pun harus diperhatikan. Yuk lanjutkan lagi membacanya.

Kali ini saya hanya akan menjelaskan karakteristik masa anak awal dalam beberapa domain. Domain tersebut di antaranya adalah aspek kognisi atau cara berpikir, emosi, bahasa, moral, dan tugas-tugasnya. Disini saya anggap kamu sudah tahu definisi aspek tersebut.

Karakteristik Masa Anak – Anak Awal

Aspek Kognitif

Jika merujuk definisinya pada kamus American Psychological Association, kognisi diartikan segala hal dengan bagaimana kita berpikir dan sadar. Sederhananya, bagaimana mengingat, menilai, bermimajinasi, menyelesaikan masalah, persepsi dan yang menggunakan otak itu disebut kognisi. Anak-anak pun memiliki kognisi tentunya namun karakteristiknya berbeda dengan remaja atau dewasa. Bahkan mungkin dengan sesamanya ada beberapa perbedaan, karena individu itu unik dan berbeda-beda.

Kognitif anak. Sumber: RASANU

Ciri kognitif anak-anak awal secara umum dijelaskan oleh Jean Piaget. Piaget adalah seorang ahli psikologi. Dia sering kali mengamati dan berinteraksi dengan anak-anak, hingga buahnya yaitu teori tentang Piaget`s Cognitive-Stage Theory atau Teori perkembangan kognitif Piaget. Teorinya memiliki 4 tahapan perkembangan kognitif.

Menurutnya, anak awal masuk ke dalam tahap pra-operasional. Piaget menyatakan pra-operasional yaitu

Anak-anak tidak lagi membuat percepsi simpel dan penyesuaian motorik terhadap objek dan kejadian. Mereka sekarang sudah bisa menggunakan simbol untuk menyebutkan atau merepresentasikan objek dan kejadian.

Jean Piaget, dalam Patricia H. Miller, 2011, Theories of Developmental Psychology.

Selain ciri di atas, Piaget berpendapat bahwa anak-anak memiliki cara berpikir seperti mereka berpikir dengan egosentris, kaku dalam berpikir, semilogis dalam bernalar, dalam keterbatasan dalam kognisi sosial atau tentang dunia sosial.

Egosentris

Pertama egosentris. Makudnya yaitu anak-anak hanya akan berpikir sesuai dengan dirinya. Kasarnya orang lain mah bodo amat. Arti kerennya anak-anak tidak mampu melibatkan perspektif orang lain dalam melihat sesuatu. Contoh nyatanya kamu bisa suruh anak-anak untuk menggambar sebuah pohon, hasilnya pasti mahkota pohon akan lebih kecil dari batangnya.

Gambarnya kira-kira begini. Sumber: dokumen pribadi

Contoh menarik lainnya yaitu ketika petak umpet, anak akan menutup muka dengan kedua tangannya. Menurutnya ia tidak dapat dilihat orang lain, tapi tubuhnya begitu jelas terlihat.

Rigidly of Thought

Kedua yaitu kekakuan dalam berpikir. Kaku dalam berpikir berarti berpikir seperti es, tidak mau berubah atau keukeuh. Contohnya yaitu anak-anak tidak akan mampu membedakan volume air dalam dua wadah yang beda bentuk. Misalnya ketika ditanya banyak mana antara volume air dalam wadah yang sama, anak akan bisa menjawab. Namun ketika salah satu air itu dipindahkan ke dalam wadah yang lebih tinggi. Maka anak akan merespon lebih banyak air dalam wadah yang tinggi.

Bernalar semilogis

Ketiga yaitu anak berpikir semilogis. Ini menunjukan ketika anak akan menjelaskan fenomena sekitar, mereka akan mengkaitkan dengan hal yang mistis atau semacamnya. Contohnya yaitu mereka akan menggambarkan bahwa matahari dan bulan seperti manusia yaitu hidup bahkan sampai pada aktivitasnya. Kamu bisa baca dalam gambar di bawah ini (Patricia H. Miller, 2011).

Kira-kira mereka menjelaskannya begini. sumber: Patricia H. Miller, Theories of Developmental Pscyhology, 2011.

Keterbatasan kognisi sosial

Kemudian terakhir yaitu terbatasnya kognisi sosial. Keterbatasan tersebut karena mereka sering mendasarkan sebuah konsepsi sosial pada satu atau dua pengalaman kongkrit pribadi. Istilah lainnya kekurangan data atau engga bisa digeneralisasikan kalau dalam statistika mah karena sampelnya ga representatif.

Aspek Motorik

ajak berjalan. Sumber: Pexels

Perkembangan motorik pada anak awal telah berkembang cukup pesat. Ini disebabkan oleh menguatnya otot dan tulang pada anak. Sehingga bisa dilihat dengan kasat mata keterampilan motorik kasar dan halus telah berkembang. Misalnya dalam usia tiga tahun anak sudah dapat berjalan dengan baik, kemudian ketika empat tahun anak akan menirukan jalan orang dewasa.

Kamu bisa membandingkan bagaimana perkembangan motorik pada anak-anak awal di bawah ini (Yuridik Jahja, 2015).

Tabel perkembangan motor anak. sumber: Patricia H. Miller, Theories of Developmental Pscyhology, 2011.

Aspek Emosi

Emosi bukan hanya marah loh. Sumber: Pexels

Wah jangan emosi dong !. Eh tunggu maksudnya bukan bagaimana perkembangan emosi anak dalam artian di atas hehe.

Banyak orang sering salah kaprah pada emosi. Emosi disini bermaksud sebuah perasaan komplek yang disertai dengan karakteristik kegiatan kelenjar dan motoris. Jadi emosi tidak hanya marah, tapi bisa sedih, senang, cemburu, dsb. Emosi memiliki banyak peran loh dalam perkembangan fisik dan perilaku. Orang yang terbuncah hatinya akan menjadi semangat dalam melakukan aktivitas begitupun sebaliknya, seperti kamu ketika galau yang males ngapa-ngapain wkwk.

Karakteristik pada anak dan remaja emosinya yaitu berlangsung singkat atau ga lama, sangat kuat karena baper, bersifat dangkal, sering terjadi, dan mudah ditebak. Emosi yang terjadi pada anak awal yaitu mereka akan mulai mengenal rasa takut, marah dengan verbal seperti nangis, cemburu, senang, love belonging, sedih, dan couriusity.

Aspek Bahasa

Perkembangan bahasa pada masa anak-anak awal sudah mulai berkembang cukup baik. Mereka sudah mampu membuat kalimat tunggal sempurna dan kalimat majemuk. Di awal mungkin anak akan berceloteh tentang keegosentrisannya seperti minat, keluarga, dan miliknya sendiri apapun itu.

Bahasanya sudah lumayan. Sumber: Pexels

Pada masa 2 tahun sampai 2.5 tahun anak telah mampu membentuk kalimat tunggal dan memahami perbandingan seperti burung elang lebih besar daripada burung pipit, anak akan bertanya segala hal tentang nama dan tempat. Kemudian pada masa 2.5 sampai 6 tahun sudah menggunakan kalimat majemuk beserta anaknya.

Aspek Moral

Ajarkan moral setempat pada anak. Sumber: Pixabay

Moralitas merupakan bagaimana seseorang memiliki peran atau bagaimana ia harus bertindak. Dalam menjelaskan aspek moral ini banyak sekali para ahli yang mengemukakannya. Diantaranya yaitu para behaviorist, Kohleberg dsb.

Menurut kaum behaviorist, anak-anak akan tumbuh atau terbentuk moralnya ketika terjadi penguatan, penghukuman, dan memodelkan orang lain atau meniru. Artinya anak akan terus melakukan suatu hal jika perbuatannya mendapat imbalan begitu juga sebaliknya.

Begitupun menurut Piaget dan Kohlberg yang menyatakan bahwa anak akan patuh pada moral ketika konsekuensi dari perilakunya mendapatkan sebuah respon hukuman atau penguatan. Artinya baik atau buruknya perilaku ditentukan oleh otoritas yang merespon perilaku anak, dihukum atau dikuatkan dengan hadiah.

Aspek Sosial

Psikososial anak berkaitan dengan bagaimana anak harus belajar berhubungan dengan lingkungannya. Bagaimana anak belajar pada teman sepermainan dan percaya diri, membentuk hubungan yang secure dengan orang tuanya, dan pemerian pemahaman gender.

Kenalkan anak pada lingkungan sosial. Sumber: Pexels

Anak-anak awal merupakan anaka pra sekolah karenanya mereka harus memiliki hubungan yang emosional dengan orang tuanya dan dibentuk kepribadian yang percaya diri dan orangl ain dsb. Artinya peranan orang tua disini sangat besar, sebelum anak memasuki masa sekolah.Begitulah beberapa karakteristik anak dalam beberapa domain atau aspek. Masih banyak aspek lainnya yang tidak dicantumkan, namun menurut saya yang paling dominan adalah domain tersebut. Untuk tambahan juga, di bawah merupakan tugas-tugas yang harus dipenuhi oleh anak awal dalam perkembangannya.

Tugas Perkembangan Masa Anak – Anak Awal

Tugas anak awal. Sumber: Pexels
  1. Harus mengkontrol eksresi seperti bisa menahan hajat ketika jauh dari toilet, dan ini harus dilatih.
  2. Belajar untuk berbicara. dalam perkembangannya mereka mampu berbicara, namun perlu dukungan supaya bisa berbicara lancar.
  3. Untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan. Ini penting untuk membedakan gender, supaya di masa depan tidak terjadi kasus gender. Ajarkan tugas, minat, peran sesuai dengan gendernya.
  4. Membedakan mana perbuatan yang salah dan benar. Di samping dari otoritas luar, anak harus diajarkan mampu memikirkan kenapa perilaku itu dilarang, dan menahan egonya.
  5. Membentuk hubungan emosional dengan orang tua.

Penutup

Oke untuk kali ini dicukupkan sampai disini. Semoga bisa bermanfaat buat kita semua, terutama bagi kamu yang akan mulai menjalani hidup baru. Bagi kamu para jomblo boleh kok mempelajari hal ini wkwk.

Dengan mengenal lebih jauh pada anak-anak semoga kita lebih bisa memperlakukan mereka sesuai dengan masanya untuk masa depan yang lebih baik. Lebih penting lagi, orang tua bisa menjadi teladan bagi anaknya agar tertanam moral yang kuat.

Dafta Bacaan

Miller Patricia H., (2011), Theories of Developmental Psychology Third Edition, New York: W. H. Freeman and Company. Retrieved from http://b-ok.org

Jahja, Y., (2015), Psikologi perkembangan, Jakarta: Kencana.

Arif Budiman

Penyuka langit biru di antara pepohonan yang hijau. Temukan tulisan lainnya di https://arifkeisuke.com

This Post Has One Comment

Punya Pertanyaan atau Komentar untuk Kontributor?

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses