Benarkah Kids Jaman Now itu Semuanya Buruk?

Kali ini Cerdaskan.ID akan memuat pendapat penulis mengenai kids jaman now. Penasaran? Yuk simak!

Pendahuluan

Belakangan ini, kalimat kids jaman now sering kali kita dengar dan menjadi trend dikalangan remaja. Sebenarnya, apasih kids jaman now itu? Secara definisi, Kids Jaman Now merupakan anak-anak atau remaja yang sering melakukan kenakalan-kenakalan atau berkelakuan yang tidak sesuai umurnya. Anak-anak itu selalu melakukan hal yang berlebihan yang di share ke media sosial.

Benarkah Kids Jaman Now itu Semuanya Buruk?

Pada era yang modern ini, teknologi, peradaban dan perilaku manusia sangat bergantung pada gadget. Para generasi millenial yang sangat bergantung pada gadget memunculkan  perilaku-perilaku kids jaman now ini.

1. Pacaran Terlalu Dini dan Berlebihan

Pada zaman milenial ini, sering kali kita melihat anak SD saja sudah pacaran dan pacarannya pun berlebihan, seperti layaknya orang dewasa saja. Kenapa fenomena ini bisa terjadi? Mungkin salah satu faktornya adalah kurangnya perhatian dan pengawasan dari orang tua. Anak-anak yang seharusnya masih didampingi ketika menonton televisi, bermain gadget, dan lain-lain, kini seperti telah terlalaikan dengan begitu saja. Tontonan televisi yang rata-rata menampilkan sinetron-sinetron yang tidak mendidik anak seperti adegan pacaran, merokok, dan lain sebagainya. Hal ini yang memicu fenomena-fenomena kids jaman now tersebut. Mereka menganggap bahwa pacaran itu keren dan kalau tidak pacaran akan ketinggalan zaman, mindset tersebutlah yang membuat fenomena kids jaman now ini semakin merebak belakangan ini.


Salah satu tingkah laku kids jaman now. Sumber  : https://khsblogdotnet.files.wordpress.com/2017/10/gaya-pacaran-anak-sd-jaman-sekarang-tahun-2017-7.jpg?w=506

2. Merokok dan Minum Minuman Keras Dianggap Keren

Merokok sejak dini sudah dianggap keren menurut kids jaman now ini. Bayangkan saja anak SD, SMP sudah mulai merokok, minum-minum layaknya orang dewasa. Hal ini muncul karena lingkungan, baik dari lingkungan sekitar rumah ataupun di lingkungan keluarganya yang kurang memberikan perhatian kepada anak-anaknya. Dan lagi-lagi trend atau pandangan bahwa jika merokok itu keren sudah merebak dikalangan anak-anak. Bagi mereka, jika tidak merokok atau minum-minum itu tidak keren. Oleh karena itu, memberikan contoh-contoh positif kepada anak sejak dini sangatlah diperlukan agar anak tidak terjadi fenomena kids jaman now ini.



Tingkah laku yang tidak untuk ditiru. Sumber :http://cdn2.tstatic.net/style/foto/bank/images/anak-sd-merokok-dan-minum-bir_20170106_152101.jpg

Baca juga : Memahami Masa Anak – Anak Awal Lewat Karakteristik Psikologi

3. Perilaku Hedonisme Sejak Dini

Hedonisme menurut KBBI adalah pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Entah mengapa perilaku hedonisme ini muncul sejak dini. Mungkin karena tontonan mereka yang memicu perilaku hedonisme sejak dini. Semakin mudahnya mengakses sesuatu lewat gadget, semakin mudahnya informasi yang didapat. Kita harus menyaring informasi positif atau negatif terhadap mudah nya akses internet tersebut. Sehingga perilaku hedonisme ini dapat dikurangi.

4. Serba Gadget!

Yang membedakan anak jaman dulu dengan kids jaman now adalah gadget! Jaman dulu ketika kita masih SD, seringkali kita bermain kelereng, petak umpet, bermain layang-layang bersama teman-teman. Namun, kids jaman now lebih sering bermain dengan gadgetnya. Sejak SD, para orang tua sudah mempercayai anak untuk memegang gadget. Tetapi, apakah orang tua mengawasi secara penuh ketika anak sedang bermain gadget? Sayangnya tidak setiap orang tua mengawasi anaknya ketika bermain gadget. Padahal mudahnya akses internet melalui gadget dapat menimbulkan informasi-informasi yang seharusnya tidak boleh diakses oleh anak-anak. Pentingnya peran orang tua dalam mengawasi anak dapat membantu anak dalam memperoleh informasi-informasi yang positif.

5. Berkelahi ala Kids Jaman Now

Berkelahinya kids jaman now ini merupakan hal yang unik. Mereka berkelahi untuk hal yang sepele. Misalnya hanya karena temannya tidak me-like postingannya di Facebook, di unfollow di Twitter dan Instagram, tidak men-tag  foto dia dan lain sebagainya. Namun, yang patut disayangkan adalah mereka berantem menggunakan bahasa yang tidak sepatutnya diucapkan. Hal itu memperlihatkan moral dari kids jaman now yang sudah termakan oleh era modernisasi ini.


Berantem nya kids jaman now. Sumber : https://1.bp.blogspot.com/-Z1ytuL80tkI/Wd3p7FkSpdI/AAAAAAAAalI/CADx6m9qvo00RwiBjx4fTqm00CLWF-B1wCLcBGAs/s640/Cewek%2BBergelut%2Bjadi%2BTontonan%2BCowok.png

Penutup

Menurut penulis, tidak selamanya kids jaman now ini buruk, karena sejatinya, bukan kids jaman now yang mengajarkan hal buruk, tetapi fenomena didalamnya lah yang memperburuk citra kids jaman now tersebut.

Baca juga : Kemampuan yang Harus Kamu Miliki Dalam Menghadapi Ekonomi Tahun 2020

Kids jaman now seharusnya berisi tentang tren mendapatkan beasiswa, tren memenangkan kejuaraan akademik, tren prestasi olahraga, dan lain-lain. Sehingga fenomenanya lah yang perlu dipositifkan agar kesan kids jaman now bukan seolah lucu tapi menjerumuskan secara perlahan.

And that’s it. Untuk kali ini dicukupkan sampai di sini saja. Semoga artikel ini bisa bermanfaat dan bisa membuka mata kita para dewasa untuk mendidik adik/teman/keponakan atau anak sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Serta jika ada kids jaman now yang juga membaca artikel ini, semoga bisa disampaikan ke teman-teman lainnya ya.

Oh iya, jika kamu suka menulis tapi merasa membuat & mengurus blog ribet, kamu bisa langsung berkontribusi di Cerdaskan.ID! Kamu tidak perlu membuat akun, dan tulisanmupun bisa kamu kirim lewat chat atau metode lain, dimana tim kami bisa bantu melakukan editing agar asik dibaca banyak orang! Lihat bagaimana caranya.

Daftar Pustaka

Pendapat pribadi penulis.

Dari Aulia Qital

Mahasiswa Manajemen Institut Pertanian Bogor angkatan 2017. Saya juga tergabung dalam beasiswa Rumah Kepemimpinan Regional 5 Bogor Angkatan 9. Saya memiliki prinsip "Seorang Pembelajar yang Masih Bodoh dan Akan Terus Merasa Bodoh"

Punya Pertanyaan atau Komentar untuk Kontributor?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Menu