Pemuda di Era Disrupsi

Kali ini Cerdaskan.ID akan memuat artikel dengan tema kemerdekaan Indonesia di 17 Agustus 2018 ini mengenai Pemuda di Era Disrupsi dari salah satu kontributor kita!

 
Selamat hari merdeka ke 73, Indonesia!

Pendahuluan

Dalam nuansa kemerdekaan ini, menikmati perjalanan negara Indonesia dalam literatur tokoh di masa-masa perjuangan kemerdekaan selalu membawa decak kagum pada setiap kontribusi yang berjalan dan melekat pada kisah hidupnya.

Mohammad Hatta misalnya, putra Sumatera yang kisahnya kita dengar pada pribadinya yang disiplin, karisma yang tulus, perjuangan yang konsisten dari masa muda hingga menua.

Saat muda, Mohammad Hatta menjadi suara yang menyuarakan perjuangan kemerdekaan Indonesia dari kancah internasional pada medium konferensi, tulisan pemikiran pembangkit perjuangan yang konsisten dikirim dari Belanda ke Indonesia dalam rubrik majalah, hingga masa pengasingan di Boven Digul, membantu warga yang membutuhkan melalui royalti tulisannya yang tidak seberapa dan masih banyak lagi kisah menderma dirinya pada negara.

Mohammad Hatta adalah sosok yang menggerakan semangat perjuangan pemuda pada masa itu, menerka peluang kontribusi peran yang dapat disumbangkan, menjadi penggerak dalam situasi terburuk sekalipun, bertahan dalam goncangan, berbagi untuk peduli dan konsisten selama masa revolusi.

Darinya kita belajar bahwa makna menjadi merdeka adalah dengan selalu konsisten dalam kontribusi kita setiap saat sekecil apapun dan sedampak mungkin bagi lingkungan kita.

Kontribusi pemuda di masa kini

Jika dikaitkan dengan kontribusi pemuda hari ini, rasanya Indonesia tidak akan kehabisan stock pemuda pada umur produktif dengan hadirnya Bonus Demografi di Indonesia pada tahun 2030 nanti. Diskursus peran pemuda menjadi sentral seiring munculnya pemuda inovatif dengan gagasan mutakhir berkontribusi untuk negeri.

Generasi milenial misalnya, pemuda dengan rentang waktu kelahiran 1980an hingga 2000 ini memiliki karakter unggul seperti kebutuhan apresiasi yang tinggi, membutuhkan panggung eksistensi, berorientasi pada kesuksesan, pandai bermain dengan gawai, serta senang berkolaborasi.

Tentu akan sangat tertarik dengan sebuah metode kontribusi yang menawarkan itu semua. Kita melihat gagasan inovasi seperti RuangGuru.com, Kitabisa.com, Bukalapak, 1000 guru, 1000 sepatu dan lain sebagainya turut membantu menjadi solusi dalam permasalahan bangsa pada bagiannya masing-masing.

 

 

 

Founder Kitabisa.com

Jika dapat ditarik benang merah, pemuda hari ini perlu memiliki 3 kapasitas umum dalam kontribusinya pada bangsa, yaitu:

1. Empati (Empathy)

Menghadirkan rasa dan karsa dalam memahami situasi dan kondisi yang dialami di lingkungannya, pemuda hari ini perlu menjadi peka dengan pandai memosisikan diri mereka dalam ruang-ruang sentral menjadi penggerak di tengah masyarakat.

Rumah Cemara misalnya, komunitas di Bandung yang bergerak menaungi orang-orang yang menjadi mantan pecandu narkoba, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) untuk kemudian berbagi dan saling menginspirasi untuk melawan diskriminasi dan menghapuskan sitgma tentang para pengidapnya. Hingga kini mereka menjadi salah satu pencetus hadirnya Homeless World Cup beberapa waktu lalu dan aktif mengirimkan delegasinya ke festival olahraga tersebut.

 

 

 

Founder Rumah Cemara

2. Teknologi (Technology)

Memahami perkembangan zaman melalui pesatnya teknologi yang ditandai globalisasi, memberikan pengaruh besar pada pola hidup masyarakat dengan cepatnya arus informasi yang terus berjalan. Hadirnya gagasan platform seperti Kitabisa.com dan RuangGuru adalah bukti kontribusi pemuda dalam menghadirkan solusi bagi Indonesia dengan memanfaatkan Teknologi.

 

 

 

Founder Ruang Guru (kiri) bersama aktivis 

Pun juga hadir teknologi tidak dalam bentuk mesin, seperti metodologi misalnya, yang lahir dari diskursus sentral dari pusat-pusat penelitian perguruan tinggi dunia seperti Stanford, Harvard memunculkan kebutuhan cara belajar yang sesuai dengan karakter generasinya untuk mengentaskan permasalahan-permasalahan sesuai zamannya, cobalah menengok komunitas Leaderian di Bandung, Sacita School dan The Local Enablers di Jatinangor.

 

 

 

Founder Leaderian

3. Kepemimpinan (Leadership)

Menjadi puzzle pelengkap dalam kontribusi pemuda hari ini, saat Empati dan Teknologi digabungkan dalam jiwa kepemimpinan, menggerakkan ide menjadi action yang nyata dan dapat dirasakan manfaatna perlu dilakukan dengan sistematis, terukur dan terencana. Usaha seperti Gojek, Grab, Kitabisa.com, RuangGuru tidak akan menjadi sebesar hari ini tanpa hadirnya sense memimpin menjadikan komunitas juga wadahnya menjadi percontohan dalam keteladanan.

 

 

 

Founder Gojek

Penutup

Akhir kata, pemuda yang perlu dihadirkan adalah ia yang bergerak atas dasar keresahan, mengkreasikannya dalam gagasan, dan menelurkannya dalam tindakan kebaikan.

Rangkaian konsistensi kebaikan itu akan menjadi rantai besar yang penuh akan manfaat, belajar darinya apa yang kurang, mengambil hikmah darinya yang penuh dengan pembelajaran.

Mari mulai berbagi untuk mencerdaskan!

Jika kamu suka menulis tapi merasa membuat&mengurus blog ribet, kamu bisa langsung berkontribusi di Cerdaskan.ID! Kamu tidak perlu membuat akun, dan tulisanmupun bisa kamu kirim lewat chat atau metode lain, dimana tim kami bisa bantu melakukan editing agar asik dibaca banyak orang! Lihat bagaimana caranya

Punya Pertanyaan atau Komentar untuk Kontributor?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Menu