Meneladani Kisah Pramoedya Ananta Toer untuk Meningkatkan Minat Pada Dunia Literasi

Kali ini Cerdaskan.ID akan memuat artikel mengenai kisah Pramoedya Ananta Toer untuk meningkatkan minat dunia literasi anak muda Indonesia saat ini.

Seperti yang kita tahu, Pramoedya merupakan sastrawan besar asal Indonesia yang sudah malang melintang di kancah internasional. Karenanya yuk ambil inspirasi dari kisahnya untuk meningkatkan minat pada dunia literasi.

Pendahuluan

Dunia literasi memang menandakan adanya sebuah peradaban manusia. Mungkin kamu sudah pernah belajar di sekolah dalam pelajaran sejarah atau IPS. Dari sana pasti kamu ingat masa sejarah itu dibagi menjadi dua yaitu pra-aksara dan aksara atau pra-sejarah dan sejarah. Yang membuat beda kedua masa tersebut yaitu adanya sebuah tulisan, ya sekedar baca tulis kurang lebih.

Dengan literasi kita bisa mengubah dunia guys. Source: Pexels

Itu mungkin jika menilik ke masa lalu. Kamu juga bisa melihat pentingnya literasi di zaman sekarang, seperti kamu harus ngumpulin paper atau makalah atau karya tulis lainnya. Kebayangkan jika kita tidak melek pada literasi.

Sebagai pemuda harapan bangsa tentunya harapan disematkan pada kamu, saya enggak lol :p. Salah satu jalan membuahkan harapan itu kamu setidaknya harus akrab dengan perihal literasi, tidak hanya update galau atau curhat di medsos ya wkwk.

Data minat literasi di Indonesia

Mungkin kamu sudah tahu perihal data peringkat literasi Indonesia. Tingkat literasi di Indonesia berdasarkan Ourwordindata sebesar 98.8% untuk usia muda antara 15-24. Ini menunjukan tingkat buta hurufnya kecil untuk Indonesia. Namun kontras dengan tingkat minat baca Indonesia yang berada di level ke dua terakhir atau ke 60 dari 61 negara. Survey ini dilakukan oleh Central Connecticut State University di US (JK Post, 2016).

Mari kita tingkatkan minat baca dimulai dari diri sendiri. Source: Pexels

Gubernur DKI Jakarta, Anis Baswedan menyebutkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki fasilitas yang sangat menunjang dan termasuk peringkat ke 34, bahkan ini di atas German dan Korea Selatan. Sungguh sangat riskan memang penggunaan fasilitas yang masih jauh dari yang di harapkan. Karenanya, fasilitas penunjang yang baik bukan berarti tingkat minat literasi juga akan naik.

Penyebab kurang minatnya pada literasi adalah, dalam asumsi saya, terlalu sering menatap smartphone atau gadget. Ini mungkin hanya sebatas asumsi, tapi berdasarkan data, penggunaan internet di Indonesia per individu rata-rata di atas 5 jam perhari. 

Pramoedya Ananta Toer

Pram di usia senja. Source: Koransulindo.com

Di sini saya akan memberikan sebuah inspirasi untuk meningkatkan minat literasi dari penulis ulung di eranya. Mungkin tidak asing bagi kalian dengan sosok Pramoedya Ananta Toer. Terlebih juga baru-baru ini sempat heboh di kalangan netizen karena buku “Bumi Manusia” akan diadaptasi menjadi film. Yang membuat adanya komentar pro dan kontra yaitu peran Minke sebagai tokoh utama dalam buku diperakan oleh Iqbal (Ex. Coboy Junior).

Menilik beberapa tanggapan netizen terutama generasi milenial, ada beberapa yang tidak mengetahui penulis yang pernah meraih nobel ini. Pramoedya Ananta Toer yang akrab dipanggil Mas Pram merupakan penulis Indonesia di era orde baru sampai reformasi. Mas pram bukunya bahkan sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa di dunia.

Namun sayang masih banyak generasi milenial yang belum mengetahuinya. Dampaknya yaitu menulis masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Karenanya dengan meningkatkan minat pada dunia literasi di negeri ini akan lebih mengenal dan menghargai sastrawan bangsa sendiri.

Biografi Singkat

Sang sastrawan Indonesia. Source: Kompasiana

Pramoedya Ananta Toer yang lebih sering disapa Mas Pram merupakan sastrawan asal Jawa Tengah, lebih tepatnya di Kabupaten Blora. Ia lahir tanggal 6 Februari 1925. Ibu Pram bernama Oemi Saidah dan Ayah Pram bernama Mastoer, yang pekerjaanya adalah seorang guru dan penulis. Ini menjadi salah satu cikal bakat menulis Pram. Selain itu, ayahnya merupakan aktivis PNI dan kepala Institut Boedi Oetomo cabang Blora (M. Rifai, 2014).

Pram merupakan anak sulung dari kedua pasangan tersebut. Pram memulai pendidikan formalnya di SD Blora, Radio Volkschool Surabaya tahun 1940-1941. Kemudian ke Taman Siswa pada 1942-1943. Setelah itu Pram pernah mengikuti kelas dan seminar perekonomian dan sosiologi oleh Drs. Mohammad Hatta, Maruto Nitimihardjo dan Sekolah Stenografi 1944-1945. Bahkan Ia juga pernah ke Sekolah Tinggi Islam Jakarta tahun 1945.

Pram ketika sekolah dasar pernah tidak naik kelas tiga kali, yang membuat ayahnya malu dan marah. Karena ayahnya merupakan kepala sekolah. Kemudian kehidupan Pram setelah itu banyak dihabiskan di Jakarta. Pram pulang ke Blora ketika Ayahnya sakit keras dan akhirnya meninggal. Hingga Ia memboyong semua saudaranya ke Jakarta untuk disekolahkan.

Orde Lama dan Orde Baru

Sosok pemimpin orde lama dan orde baru. Source: Apaperbedaan.com

Di era Soekarno, Pram pernah ditahan karena mengkritik petahana yang mengeluarkan dekrit di tahun 1959. Ketika itu pemerintah melarang pedagang China bisnis di beberapa daerah. Hukuman yang dijatuhkan juga dengan alasan buku Hoakiau di Indonesia yang mengkritik cara perlakuan tentara Indonesia terhadap etnis Tionghoa. Pram menyebut kala itu negara ini negara republik yang rasis.

Setelah dari penjara Pram dimintai untuk mengajar di Fakultas Sastra Universitas Trisakti (dulu Res Publica). Meskipun Ia tidak memiliki pengalaman mengajar sekalipun, tapi Ia mengaku punya caranya sendiri.
Ketika masa pergolakan di era transisi gejolak politik menjalar ke organisasi termasuk kesenian. Disini perang ideologi paling representatif yaitu antara Lekra dan Manikebu. Lekra yang menganggap seni itu harus diiringi dengan memperjuangkan rakyat, sementara Manikebu (didukung petahana) seni merupakan nilai manusia universal.

Akibat hal ini lah Pram sering dijebloskan ke penjara pada masa orde baru. Karena karya-karya nya sering mengkritik pemerintah dan bernuansa memperjuangkan kemanusiaan atau rakyat. Alhasil pendengaran Pram turun 50% serta hasil karya inteleknya dibumi hanguskan dan tidak dapat dipublikasikan.

Penghargaan Untuk Pramoedya Ananta Toer

 

Jika kamu masih ragu dengan kualitas Pram, kamu bisa melihat daftar penghargaan nasional dan Internasionalnya sebagai berikut (M. Rifai, 2014) :

  1. Pada 1951: First Prize from Balai Pustaka for Perburuan (The Fugitive);
  2. Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional for Cerita dari Blora (Tales from Blora), 1953;
  3. Yamin Foundation Award for Cerita dari Jakarta (Tales from Jakarta) dedicated by writer, 1964;
  4. Adopted member of the Netherland Center-During Buru Exile, 1978;
  5. Honorary Life Member of the International PE.N. Australia Center. Australia, 1982;
  6. Honorary member of the P.E. N. Center, Sweden, 1982;
  7. Honorary member of the P.E.N. American Center, USA, 1987;
  8. Freedom to Write Award from P.E.N. America, 1988;
  9. Pada 1989, Deutschsweizeriches P.E.N. member, Zentrum, Switzerland;
  10. The Fund for Free Expression Award, New York, USA, 1989;
  11. International P.E.N English Center Award, Great Britain, 1992;
  12. Stichting Wertheim Award, Netherland, 1995;
  13. Pada 1995, Ramon Magsaysay Award, Philiphine;
  14. Nobel Prize for Literature nomination, 1995 dan UNESCO Madanjeet Singh Prize, “in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerance and non-violence, Perancis, 1996.
  15. Fukuoka Cultural Grad Prize, Jepang (2000)
  16. The Norwegian Author (2004).
  17. Cenenario Pablo Neruda, Republica de Chile (2004)
Kamu juga jangan kalah ya!. Source: Giphy

Kemungkinan tidak dikenalnya oleh bangsanya sendiri bisa kita tarik dan lihat dari data penghargaannya. Ketika Era Soekarno Pram mendapat penghargaan dari Indonesia kala itu. Sementara ketika Era berganti menjadi Soeharto, Pram tidak mendapatkan penghargaan dari negerinya sendiri. Ia hanya dihargai oleh dunia internasional.

Asumsi ini bukan ditujukan tanpa dasar, namun Pram sendiri sering ditahan ketika masa orde baru. Bahkan karya-karyanya banyak yang dilarang dan dihancurkan. Pada masa orde baru, karena Pram merupakan bagian dari Lekra, namanya dikaitkan dengan PKI dan dihitamkan. Sehingga membuat Ia tidak dikenal oleh bangsanya sendiri.

Meski begitu, Pram tetap berkarya. Setelah era reformasi Ia berhasil menerbitkan buku Arok Dedes (1999), Mangir (1999), Larasati: Sebuah Roman Revolusi (2000), Perawan dan Remaja Dalam Cengkraman Militer (2001), dsb.

Kita bersatu dan juga melawan, bahkan menyerang. Kalau ada persatuan, semua bisa kita kerjakan, jangankan rumah, gunung dan laut bisa kita pindahkan.

Pesan yang bisa diambil

Belajar dari Pram, menulis merupakan sebuah tugas kemanusiaan untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. Memang Pram juga tidak lepas dari tujuan ekonomis, namun setelah itu menulis merupakan sarana memperjuangkan rakyat.

Yuk mulai menulis dari sekarang. Source: Pexels.

Disamping itu, kita bisa mempelajari dari karya-karyanya yang sangat banyak. Pram mengajarkan bahwa kita harus punya tekad yang kuat dan konsisten dalam menulis, meski karyanya dihilangkan dan dianggap kurang menyenangkan.

Dengan menulis kita akan mendapatkan beberapa nilai kehidupan penting, seperti kita akan dilatih kesabaran dan ketelitian, ketika kita menulis pastinya kita memerlukan sumber dan itu akan mendorong kita untuk jadi pembaca yang tekun dsb.

Oleh karena itu, Pram mengajari kita bahwa harus meningkatkan lagi dunia literasi Indonesia. Sebab jika kita menilik karyanya, setiap tahun pasti menerbitkan suatu buku baik karangan sendiri atau terjemahan. Bahkan dalam satu tahun Pram menghasilkan 6 buku.
Berikut karya Pram yang akan saya sajikan dalam bentuk sebuah gambar dari M. Rifai (2014):

Ini hanya sebagian karyanya, belum juga yang terjemahan. Source: Twitter.com

Seseorang yang pernah tidak naik kelas tiga kali di sekolah bisa menciptakan banyak karya di tengah kondisi politik dan kehidupan yang carut marut, lalu kita bagaimana di kehidupan yang bebas merdeka ini?

Penutup

And that’s it, semoga kita menjadi giat dan lebih minat di dunia literasi. Indonesia bisa disandingkan dengan dunia lain, karena Indonesia mampu melahirkan sastrawan-sastrawan ulung seperti Pram. Meskipun tidak dikenali oleh bangsa sendiri.

Memang benar pepatah Soekarno yang menyatakan bangsa yang besar merupakan bangsa yang menghargai sejarah. So, semoga sastrawan unggul selanjutnya adalah kamu. Apapun profesi kamu saat ini, tidak ada alasan untuk mulai menulis dan membaca seperti beberapa sastrawan Indonesia saat ini.

Yuk mulai dengan menulis dari sekarang. Jika kamu suka menulis tapi merasa membuat & mengurus blog ribet, kamu bisa langsung berkontribusi di Cerdaskan.ID! Kamu tidak perlu membuat akun, dan tulisanmupun bisa kamu kirim lewat chat atau metode lain, dimana tim kami bisa bantu melakukan editing agar asik dibaca banyak orang! Lihat bagaimana caranya

Terima kasih.

Daftar Pustaka

M. Rifai, (2014), Pramoedya Ananta Toer Biografi Singkat 1925-2006, Yogyakarta: Garasi House of Books. Retrieved from Perpusnas.

Koeslah S. Toer & Soesilo Toer, (2009), Bersama Mas Pram: Memoar Dua Adik Pramoedya Ananta Toer, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Wijatnika, “Pramoedya Ananta Toer Itu Siapa Sih”, Kompasiana, https://www.kompasiana.com/wijatnikaika/5b0ce8c5ab12ae498371dfb2/pramoedya-ananta-toer-itu-siapa-sih

The Jakarta Post, “Indonesia ranks second last in reading interest study”, http://www.thejakartapost.com/life/2016/08/29/indonesia-ranks-second-last-in-reading-interest-study.html

Ourworldindata, “Literacy”, https://ourworldindata.org/literacy

Redaksi - Arif Budiman

Penyuka langit biru di antara pepohonan yang hijau

Punya Pertanyaan atau Komentar untuk Kontributor?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Menu