Kamu Sedang Mempelajari Studi Perbandingan Politik? Pahami 3 Konsep ini!

Kali ini Cerdaskan.ID akan menjelaskan 3 konsep utama dalam memahami studi perbandingan politik! Kamu tertarik dengan studi ilmu politik? 

Jika studi perbandingan politik merupakan bacaan yang kamu minati, lanjutkan baca kebawah ya

Pada kesempatan ini, Cerdaskan.ID akan menguraikan konsep rationality, culture, dan structure dalam studi perbandingan politik. Literatur utama yang digunakan dalam penjelasan ini adalah buku dari Lichbach dan Zuckerman yang menjelaskan tiga teori besar dalam perbandingan politik. Bahkan tiga teori tersebut tertulis dalam judul bukunya, yaitu “Comparative Politics: Rationality, Culture, Structure”.

Source : Comparative Politics (Lichbach & Zuckerman)

Pendahuluan

 Pembahasan mengenai rationality menggunakan teori pilihan rasional (rational choice) sebagai paradigma utama, culture menggunakan pendekatan kultural, sedangkan stucture menggunakan pendekatan struktural dalam mengkaji fenomena politik.

Konsep Pada Studi Perbandingan Politik

Rationality

Konsep rationality yang menggunakan teori pilihan rasional banyak dikaji oleh Hobbes, Smith, dan Pareto. Paradigma ini menjelaskan aktor atau individu sebagai acuan utama, sehingga dijelaskan bahwa individu merupakan aktor yang berorientasi pada keuntungan dirinya sendiri. Analisis tentang individu mencakup bagaimana individu dalam melakukan tindakan, memilih suatu keputusan, serta bagaimana perilakunya terhadap keputusan kolektif. Lichbach dalam tulisannya menjelaskan bahwa paradigma rasionalis mempelajari aktor yang selalu beralasan untuk memuaskan apa yang menjadi keinginannya. Pada konteks ini, dapat kita pahami bahwa individu berpolitik untuk kepentingannya sendiri. Sehingga apabila seorang dihadapkan pada Pemilu, kemudian posisinya sebagai pemilih, maka individu tersebut akan berbicara tentang apa kepentingannya untuk memilih, serta manfaat apa yang didapatkannya ketika menggunakan hak pilih.

Structure

Pendekatan struktural banyak dikaji oleh Marx, kemudian dikembangkan oleh Weber yang membahas tentang institusi politik dan sosial. Paradigma ini membahas tentang bagaimana negara dan masyarakat berinteraksi, terlebih dalam aspek ekonomi politik. Dengan demikian, objek kajian dalam pembahasan ini umumnya adalah organisasi formal (pemerintahan), hubungan antar kelas, partai politik, dan kelompok kepentingan. Seorang strukturalis menggunakan deskripsi yang proporsional dalam memahami dan mengeneralisasi persoalan yang ditelaahnya. Paradigma strukturalis mengeksplorasi hubungan antar aktor dalam konteks institusional. Dengan demikian, pada aspek ini paradigma strukturalis menelaah hal-hal yang memiliki struktur, umumnya organisasi formal. Seperti halnya, persoalan mengenai kebijakan pemerintah yang membutuhkan koordinasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Selain itu, partisipasi masyarakat dan kelompok kepentingan yang turut andil dalam perumusan suatu kebijakan. Maka dari itu, pendekatan strukturalis dipandang relevan untuk mengkaji pola interaksi antar-lembaga pemerintahan dan masyarakat.

Culture

Pendekatan kultural banyak dikaji oleh Montesquieu, Weber, dan Mosca. Pendekatan ini lebih banyak mengkaji kasus khusus dan melihat secara keseluruhan fenomena yang diteliti. Seorang kulturalis menggunakan penjelasan yang detail dalam memahami fenomena penelitiannya. Kemudian, paradigma kulturalis mempelajari aturan yang membentuk identitas individu atau kelompok, sehingga hasilnya merupakan pemahaman interpretatif. Pembahasan mengenai paradigma kulturalis, tidak terlepas dari pola interaksi individu maupun kelompok sehingga membentuk suatu identitas politik yang dimilikinya. Seperti halnya, dalam Pemilu di daerah lazimnya muncul isu putera daerah harus mendapatkan tempat di pemerintahan, akan tetapi prinsip utama untuk maju menjadi calon kepala daerah adalah memenuhi persyaratan yang diputuskan oleh KPU. Sehingga bagi kandidat yang merupakan putera daerah asli, cenderung memainkan isu identitas dalam menghadapi kendidat lainnya yang tidak berasal dari daerah tersebut. 

Pola Paradigma

Pada tatanan praktis teori-teori diatas dapat mengkaji permasalahan mengenai perilaku pemilih, permasalahan sosial yang mencakup gerakan dan revolusi, permasalahan ekonomi politik, dan relasi antara negara dan masyarakat. Tiga paradigma tersebut merupakan landasan utama dalam memahami fenomena politik, terlebih dalam pembahasan studi perbandingan politik. Paradigma rasionalis yang menggunakan teori pilihan rasional, menekankan aspek individu sebagai pembahasan utama. Individu dianggap sebagai objek yang selalu ‘egois’, sehingga apapun hal yang dilakukannya hanya berbicara tentang apa yang dapat menguntungkannya. Kemudian, paradigma kulturalis melihat suatu fenomena sebagai pengaruh yang dapat membentuk suatu identitas, baik itu bagi individu maupun kelompok. Selain itu, paradigma strukturalis menjadi kerangka teoritis dalam menjelaskan suatu institusi formal maupun sosial. Ketiga paradigma tersebut menjadi dasar utama yang harus dikuasai oleh para ilmuan perbandingan politik. Memahami pola dari ketiga paradigma tersebut, memudahkan peneliti menjelaskan suatu fenomena dalam tiga kerangka analisis yang komprehensif. Meskipun pada dasarnya ada ilmuan yang harus fokus pada satu paradigma saja, atau bahkan ilmuan ‘pragmatis’, yang dalam hal ini menggunakan berbagai paradigma dalam menjelaskan suatu fenomena penelitian.

Bagi peneliti politik penting memahami ketiga paradigma tersebut, dikarenakan pembahasan fenomena penelitian akan lebih mendalam bila dilihat dari berbagai aspek. Ketiga paradigma yang dibahas oleh Lichbach dan Zuckerman dikembangkan dari konsepsi Marx tentang structure dan Weber mengenai agent. Kajian mengenai pendekatan strukturalis dan kulturalis ada dalam bahasan structure, sedangkan kajian terhadap rationality yang terfokus pada individu sebagai aktor, ada dalam kajian agent. Peneliti dapat menggunakan tiga paradigma tersebut, untuk menghadirkan analisis yang berkesinambungan, serta lebih mendalam, sehingga hasil penelitian dapat menghasilkan telaah kasus yang lebih komprehensif.

Kerangka Penelitian

Penggunaan kerangka tersebut sebagai suatu alat analisis yang berhubungan satu sama lainnya, memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Pembahasan yang komprehensif dengan menggunakan tiga paradigma tersebut dapat menambah waktu yang dibutuhkan peneliti agar fenomena penelitian dapat dideskripsikan secara menyeluruh. Selain itu, alat analisis yang banyak mengharuskan peneliti harus lebih fokus terhadap penelitiannya, sehingga tidak menjadikan proses penelitian menjadi bias. Dengan demikian, sebagai ilmuan politik harus memahami berbagai alat analisis dari teori-teori sosial politik, namun penggunaan teori-teori tersebut tetaplah harus proporsional, sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitian.

Penutup

Oke sekian dulu ilmu yang berkaitan dengan politik yang bisa saya bagikan semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian.

ika kamu suka menulis tapi merasa membuat&mengurus blog ribet, kamu bisa langsung berkontribusi di Cerdaskan.ID! Kamu tidak perlu membuat akun, dan tulisanmupun bisa kamu kirim lewat chat atau metode lain, dimana tim kami bisa bantu melakukan editing agar asik dibaca banyak orang! Lihat bagaimana caranya

Daftar Pustaka

Comparative Politics (Lichbach & Zuckerman) – Politics Book

Punya Pertanyaan atau Komentar untuk Kontributor?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Menu