Mengenal Seni Kaligrafi Jepang Shodo dan Shuuji

Kali ini Cerdaskan.ID akan membahas artikel mengenai budaya Negara Jepang yang kita tahu sudah sangat mendunia, entah itu budaya pop-nya ataupun tradisionalnya.

Mungkin artikel ini cocok buat kamu pecinta budaya dan bahasa Jepang. Terutama buatmu yang baru tahu mengenai lagu, anime dan cosplay nya aja nih. Karena sekarang kita akan kupas lengkap mengenai seni kaligrafi lho! Penasaran kan? Yuk teruskan membaca sampai bawah..

Pendahuluan

Budaya pop mungkin lebih digandrungi dan dikenal banyak orang seperti anime, cosplay, j-rock dan sebagainya. Namun, belakangan kesenian tradisional mereka mulai menjadi perhatian anak muda Indonesia. Salah satu yang sedang naik daun adalah kesenian kaligrafinya, yakni Shodo dan Shuuji. Ornamen bergambar huruf kanji atau hiragana dalam ukuran cukup besar yang biasanya menghias sudut ruangan tempat-tempat bertema Jepang.

Seni Kaligrafi dari kacamata seorang praktisi bahasa Jepang

Fulki Bramantya, 26 tahun seorang praktisi bahasa Jepang yang juga merupakan penghobi kesenian yang termasuk Seni Kaligrafi Aksara Sinospheric. Seni kaligrafi Sinospheric sendiri artinya rumpun huruf yang digunakan masyarakat Asia Timur. Pria yang kini bekerja sebagai penerjemah itu mengaku mulai mengenal seni kaligrafi Shodo dan Shuuji sejak bangku SMA. Namun, baru terlaksana ketika menduduki bangku kuliah. “Tertarik sejak SMA (Sekolah Menengah Atas), tetapi baru mulai mencoba di jenjang perkuliahan semester dua,” kata Fulki. Sabtu, 3 Agustus 2019.

Bagi Fulki, seni ini memiliki arti khusus. Shodo dan Shuuji bukan hanya sekedar menggoreskan tinta ke atas kertas  dan menciptakan keindahan secara visual, namun juga mewakili ekspresi kalbu. “Saya senang karena, seni ini menarik dari segi visual dan memiliki tantangan tersendiri untuk dikerjakan. Kondisi ‘mood’ penulis akan sangat mempengaruhi hasil guratan. Jadi, hobi ini sangat melatih kesabaran dan konsentrasi,” ungkapnya.

Peminat Seni Kaligrafi Jepang di Indonesia sudah banyak belum sih?

Lulusan S1 Sastra Jepang itu mengatakan bahwa peminat hobi ini belum terlalu besar di Indonesia. Kendati demikian, trennya terus menaik. Ucapannya bisa dibuktikan lewat semakin banyaknya acara-acara pameran yang digelar. Bulan Juli lalu, ia berkesempatan untuk memamerkan karyanya pada salah satu eksibisi seni yang berlokasi di salah satu pusat perbelanjaan ternama di kota Bandung. “Untuk di Bandung sendiri perlombaannya diadakan di level SMA dan level Mahasiswa. Penyelenggaranya biasanya sekolah atau universitas yang mengajarkan bahasa dan budaya jepang didalamnya,”

Pria berperawakan subur itu menyarankan bagi pelajar-pelajar Indonesia yang tertarik studi budaya ke Jepang sebaiknya mengetahui dan turut mempelajari kesenian ini. Pasalnya, kesenian ini masuk ke dalam kurikulum sekolah-sekolah di Jepang.

Pria yang juga aktif mengajar bahasa Jepang ke pelbagai pelatihan itu mengatakan bahwa mempelajari Shodo dan Shuuji cukup mengasyikan dan menantang.  Semakin asyik karena kesenian ini terbuka untuk semua umur dan jenis kelamin. “Dari usia dini sudah bisa, kira-kira level sekolah dasar,” kata dia.

Apa aja sih yang harus dipersiapkan jika ingin belajar Shodo dan Shuuji?

Nah jika kamu tertarik mempelajari Shodo dan Shuuji, kamu tidak usah khawatir ribet atau butuh persiapan khusus yang menguras kantong. Percayalah peralatan yang dipergunakan pun cukup mudah diperoleh. Pemula cukup menyiapkan kuas khusus kaligrafi Cina atau Jepang, tinta, dan kertas yang dapat di beli di toko peralatan tulis. “Terakhir, kuota internet, untuk mencari referensi di Youtube,” kelakar Fulki.

Tingkatan Ilmu dalam Kaligrafi Shodo dan Shuuji

Dalam ilmu kaligrafi khususnya Shodo dan Shuuji, terdapat tingkatan-tingkatan ilmu loh! Kenapa sih ada tingkatan? Ini berguna buat mengelompokkan skill yang kamu punya dan bahan ajar yang akan kamu hadapi nantinya, jika kamu masih pemula maka akan masuk ke tingkatan paling dasar, namun jika kamu sudah mahir dan dapat meningkatkan skillmu dalam waktu cepat tentu akan naik tingkatan dengan mudah.

Nah, tingkatan ilmunya ada tiga. Pertama kali pemula harus mempelajari gaya menulis ”Kai” atau istilah umumnya ”Kaisho”. Setelah mahir, berlanjut  mempelajari gaya menulis semi-cursive, ”Gyousho” dan terahir ialah gaya cursive, ”Sousho”.

Fulki mengungkapkan hanya mencari kepuasan batin selama menekuni hobi ini. Namun, tidak menyangkal bila hobi ini juga bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah. “Hobi ini sangat bisa menghasilkan, beberapa rekan sudah menjalankan bisnis ini sebagai tambahan penghasilannya,” ujar dia.

Saat ini, Fulki menekuni kaligrafi di kota Bandung dan tergabung ke dalam “IndonesiaYouth East Asian Calligrapher”. Ia berharap kesenian Shodo dan Suuji bisa mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia dan terus berkembang. “Saya harap, hobi ini bertambah peminatnya dan banyak diadakan workshop-workshop terkait bidang inim,” tukas dia.

Penutup

Bagaimana? Cukup tertarik mempelajari kaligrafi Jepang? Melalui media internet dan sosial media tentunya kamu bisa mencari lebih banyak mengenai bagaimana cara bergabung komunitas atau mencari info event-event yang berkaitan dengan seni ini. Selamat mencoba ya, semoga ini bisa menjadi salah satu passion-mu. Jangan lupa share kepada kami hasil kaligrafimu nanti ya!

Satu lagi, Jika kamu suka menulis tapi merasa membuat & mengurus blog ribet, kamu bisa langsung berkontribusi di Cerdaskan.ID! Kamu tidak perlu membuat akun, dan tulisan mupun bisa kamu kirim lewat chat atau metode lain, dimana tim kami bisa bantu melakukan editing agar asik dibaca banyak orang! Lihat bagaimana caranya.

Syntia Balina Dewi

A frontliner who loves singing and currently enjoying her new journalist world as beginner writer and editor in order to participate in educating Indonesian people through Cerdaskan.ID. Yuk kamu juga bisa ikut berperan mencerdaskan Indonesia dengan join sebagai kontributor di Cerdaskan.ID.

Punya Pertanyaan atau Komentar untuk Kontributor?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Menu